Penggiringan Perilaku, Infrastruktur Pembayaran, Konflik Kepentingan, dan Perebutan Pintu Transaksi Asia Tenggara
Pukul enam lewat dua belas menit, PakRPP berdiri di tengah padang rumput yang terlalu luas untuk disebut halaman belakang dan terlalu rapi untuk disebut alam. Kabut masih menggantung rendah. Rumput basah sampai mata kaki. Dari kejauhan terdengar mesin diesel, lonceng ternak, suara pekerja memanggil satu sama lain, dan sesekali bunyi burung yang tidak tercantum dalam struktur organisasi perusahaan.
Di sebelah PakRPP duduk seekor Border Collie hitam putih bernama Mong. Mong mempunyai tiga hal yang PakRPP hormati.
- Fokus;
- Kesabaran; dan
- Kemampuan mengendalikan seratus tiga puluh ekor domba tanpa pernah membuat presentasi PowerPoint.
“Come by,” lalu Mong bergerak memutar. Kawanan bergeser. “Away.” Arah berbalik. “Lie down.” Mong berhenti.
Domba-domba itu tidak pernah membaca SOP. Mereka tidak menerima memo. Tidak ada town hall. Tidak ada sosialisasi perubahan perilaku melalui webinar dua jam yang mikrofon pesertanya lupa dimatikan. Mereka hanya membaca ruang.
PakRPP menyukai pekerjaan itu karena hasilnya jujur. Kalau posisi anjing salah, kawanan pecah. Kalau tekanannya terlalu besar, ternak panik. Kalau terlalu kecil, domba memandang pelatih dengan ekspresi yang selama ini hanya berhasil direplikasi oleh pegawai yang menerima undangan rapat hari Jumat pukul 16.45.
Di bukit sebelah kanan, sebuah Toyota Land Cruiser hitam berhenti. Seorang pria turun. Kemejanya putih. Sepatunya terlalu bersih untuk tanah yang baru diinjak. Namanya Dion. Jabatan di kartu namanya: Regional Behavioral Growth Strategy, LajurPay.
PakRPP membaca sekali. Lalu dua kali.
“Mas dari peternakan?” “Grup, Pak.” “Bagian ternak?” “Bukan.” “Bagian anjing?” “Juga bukan.” “Terus ngapain lihat Mong dari tiga hari lalu?”
Sambil tersenyum, dion menjawab “Belajar.”
PakRPP menoleh kepada Mong. Mong menatap domba. Di antara mereka, hanya satu yang tampaknya mengetahui apa yang sedang terjadi.
Kontrak PakRPP datang dari Baron Agro-Livestock Group, kelompok usaha fiktif yang bergerak di peternakan, perkebunan, logistik, pangan olahan, pergudangan, properti, energi, distribusi, dan beberapa bidang lain yang membuat halaman profil korporasinya lebih panjang daripada sejarah sebagian negara.
Pemiliknya Haji Baron. Di majalah bisnis, Baron disebut pionir integrasi agribisnis. Di desa-desa sekitar konsesi, namanya dipasang pada klinik, beasiswa, lapangan futsal, dan satu jembatan yang tetap disebut warga sebagai Jembatan Lama karena hak penamaan ternyata mempunyai batas kultural.
Di grup WhatsApp sopir, ia memiliki beberapa sebutan lain, tapi PakRPP tidak datang untuk mengaudit semuanya. Ia datang karena Baron mempunyai ternak dalam jumlah besar dan baru membeli enam Border Collie dari lini kerja yang bagus. Masalahnya, membeli anjing pintar tidak otomatis membuat manusia ikut pintar. Itulah sebabnya PakRPP dikontrak.
Selama enam minggu ia melatih handler, pekerja, supervisor, dan enam anjing mengenai cara membaca ternak, menjaga jarak, menggunakan tekanan secara proporsional, mencari balance point, dan mengarahkan kawanan tanpa membuat lapangan berubah menjadi demonstrasi kecil.
Border Collie memang mempunyai gaya kerja khas. American Kennel Club menjelaskan bahwa breed ini dikenal dengan kemampuan mengendalikan ternak melalui tatapan intens yang disebut eye, gerak merunduk, serta kemampuan mengumpulkan dan mengarahkan kawanan. Dalam uji herding, anjing dinilai dari kemampuannya memindahkan dan mengontrol ternak serta bekerja pada titik keseimbangan yang tepat.12
“Anjing tidak harus menggigit domba,” PakRPP menjelaskannya lebih sederhana kepada para handler.
Salah seorang pekerja mengangkat tangan, “Kalau dombanya ngeyel?”
“Kadang ada situasi sulit. Tapi prinsipnya bukan kekerasan. Yang kita atur itu posisi,” PakRPP berjalan beberapa langkah.
“Kalau Mong berdiri di sini, domba baca tekanan.” Bergerak lagi. “Kalau dia pindah ke sana, jalurnya berubah.” Ia menunjuk kawanan. “Yang dipengaruhi bukan kaki dombanya langsung. Yang dipengaruhi keputusan kakinya.”
Dion menulis kalimat terakhir. PakRPP melihat.
“Mas serius sekali.” “Bagus, Pak.” “Apa yang bagus?” “Keputusan kakinya.” “Mas kerja di apa tadi?” “Pembayaran.”
PakRPP mengangguk pelan seperti orang yang baru mengetahui bagian Finance mulai merekrut penggembala.
Enam minggu kemudian, pelatihan selesai. Tidak ada domba hilang. Tidak ada anjing cedera. Tiga handler sudah cukup bagus untuk bekerja tanpa PakRPP. Dua masih terlalu banyak berteriak.
Satu orang tetap memanggil semua anjing dengan nama “Blacky” meskipun empat di antaranya mempunyai warna putih lebih banyak daripada hitam. Diversity management di peternakan masih membutuhkan investasi.
PakRPP dipanggil ke kantor administrasi dan bertemu Bu Lastri, Kepala Keuangan unit perkebunan yang sudah menyiapkan kuitansi, “Pembayaran terakhir, Pak.”
Di atas meja terdapat amplop tebal. PakRPP menatapnya, “Cash?”
“Permintaan awal Bapak begitu,” ujar Bu Lastri yang mengikuti SOP.
Memang benar. Ketika menandatangani kontrak, PakRPP meminta sebagian termin terakhir dibayar tunai karena esoknya ia harus membayar beberapa pekerja lapangan, transportasi, dan kebutuhan lain dalam perjalanan. Ia menghitung sekilas. Jumlahnya sesuai.
Bu Lastri menandatangani bukti pembayaran. PakRPP menandatangani penerimaan. Semua tampak legal. Di dunia modern, tragedi sering dimulai setelah kedua pihak mempunyai salinan dokumen.
Dua hari kemudian, PakRPP berhenti di bank. Mesin penghitung uang bekerja dengan kecepatan yang membuat manusia terlihat seperti teknologi generasi pertama. Lembar demi lembar masuk.
Suara mekanis terdengar dan berhenti. Petugas bernama Rena mengambil satu lembar. Memeriksa. Mengambil lagi. Lalu satu lagi. Wajahnya berubah dari ramah menjadi hati-hati.
“Pak, ini ada beberapa yang kami ragukan keasliannya,” kata Petugas Bank.
PakRPP tertawa pendek. Bukan karena lucu. Karena manusia mempunyai mekanisme psikologis aneh ketika berita buruk terlalu tidak sopan untuk langsung diterima.
“Diragukan maksudnya jelek?” “Keasliannya, Pak.” “Uang palsu?” “Kami perlu prosedur klarifikasi. Bank Sentral yang berwenang menentukan keasliannya.”
Kalimat itu faktual. Bank Indonesia menyatakan bahwa masyarakat yang menemukan Rupiah yang diragukan keasliannya dapat meminta klarifikasi, dan BI merupakan otoritas yang menentukan keaslian Rupiah. Uang yang kemudian dinyatakan tidak asli tidak memperoleh penggantian.3
PakRPP menatap tumpukan, “Kalau palsu, uang saya hilang?”
Rena menggunakan ekspresi profesional yang diciptakan untuk menyampaikan jawaban buruk tanpa memperburuk kadar kolesterol nasabah, “Kalau dinyatakan tidak asli, tidak diganti.”
PakRPP duduk. Di teleponnya ada foto Mong sedang menggiring domba. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa domba memiliki sistem pembayaran yang lebih transparan.
Baron Agro-Livestock menerima telepon PakRPP dengan sangat baik. Terlalu baik. Bu Lastri meminta salinan kuitansi. Legal meminta berita acara. Finance meminta nomor seri. Security meminta kronologi. Birokrasi yang panjang seperti Jalan Tol Terbanggi Besar - Pematang Panggang - Kayu Agung (Terpeka).
Compliance meminta PakRPP tidak membuat kesimpulan sebelum pemeriksaan. Corporate Communication bahkan belum ditanya tetapi sudah memiliki kalimat:
Perusahaan berkomitmen penuh mendukung proses klarifikasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Tidak ada satu pun kalimat yang salah. Namun setelah empat puluh menit, PakRPP tetap belum mengetahui siapa yang akan mengganti uangnya. Akhirnya Haji Baron menelepon sendiri, “Pak, santai. Kita selesaikan.”
“Uangnya dari kas Bapak.” “Dari kas perusahaan.” “Sama saja.” “Tidak sama. Itu sebabnya kita mendirikan badan hukum.”
PakRPP diam tapi Baron tertawa.
“Bercanda.”
PakRPP tetap tidak tertawa karena memang tidak lucu.
“Kalau memang dari kami, kami tanggung. Tapi jangan langsung pikir ada orang di sini cetak uang palsu di belakang kandang.”
“Saya belum bilang begitu.” “Suara Bapak sudah bilang.”
Telepon berakhir dengan janji investigasi internal. Masalah seharusnya selesai. PakRPP justru mulai tidak bisa tidur. Bukan karena nominal. Karena selama enam minggu ia melatih anjing untuk membaca pola. Sekarang pola sedang menatap balik.
Tiga hari setelah kasus itu, sebuah warung dekat gerbang perkebunan menempel kertas: MOHON MAAF PECAHAN TERTENTU DIPERIKSA LEBIH LAMA. Warung lain memasang: UTAMAKAN QR. Lalu minimarket milik koperasi pekerja mengumumkan promosi baru: Bayar pakai LajurPay. Cashback 25%.
PakRPP mengenal nama itu. Dion. Kartu nama. Regional Behavioral Growth Strategy. Ia membuka browser pada gawai untuk mengakses internet.
LajurPay adalah startup pembayaran fiktif yang baru memperoleh pendanaan besar untuk memperluas layanan di Asia Tenggara. Pada artikel tersebut, Haji Baron ternyata masuk melalui kendaraan investasi keluarga dan menjadi salah satu investor strategis.
PakRPP menatap layar cukup lama. Kemudian melakukan sesuatu yang biasanya mendahului kesalahan intelektual. Ia merasa semuanya masuk akal.
Teori selesai sebelum makan siang bergizi gratis datang. Baron mempunyai lahan. Baron mempunyai pekerja. Baron mempunyai merchant. Baron mempunyai vendor. Baron menanam modal di startup pembayaran.
Uang palsu beredar. Orang takut cash. LajurPay masuk. Transaksi pindah. Valuasi naik. PakRPP menggambar panah. Banyak panah. Semakin banyak panah, semakin ia merasa menjadi investigator. Mong tidur di bawah meja.
“Ini konspirasi, Mong,” tapi Mong menguap. PakRPP tetap berbicara, “Saya yang ngajarin mereka menggiring!”
Mong pindah posisi dan kembali tidur. Seorang profesional kadang harus menerima bahwa juniornya tidak mendukung tesis.
PakRPP mendatangi kantor LajurPay di kota. Tidak ada ruang gelap atau orang membakar dokumen, bahkan tidak ada whiteboard bertuliskan OPERASI HAPUS CASH. Yang ada tanaman indoor, kopi gratis, orang memakai sneakers mahal, layar besar yang menampilkan metrik pertumbuhan penggunam, dan CEO cantik bernama Maya yang sedang bergegas mendekat.
Usianya empat puluhan awal. Bicara cepat dan tidak defensif. Setelah mendengar teori PakRPP selama sembilan menit, Maya meminta izin mengambil pistol spidol.
“Pertama, kami memang menerima investasi dari kendaraan investasi yang berafiliasi dengan Pak Baron.”
Satu lingkaran.
“Kedua, kami memang ingin ekspansi regional.”
Lingkaran kedua.
“Ketiga, Baron Agro-Livestock memang salah satu ekosistem merchant dan payroll potensial.”
Lingkaran ketiga.
“Lalu?”
“Lalu Bapak melompat dari tiga fakta ke tuduhan bahwa seseorang menyebarkan uang palsu supaya orang pakai aplikasi kami.”
“Itu konfliknya jelas,” sahut PakRPP.
“Konflik kepentingan bukan bukti kejahatan.”
PakRPP menahan napas. Maya melanjutkan.
“Kalau investor kami punya bisnis besar, tentu ada potensi sinergi. Itu harus diatur. Related-party arrangement harus transparan. Commercial terms harus fair. Tapi Bapak masih harus membuktikan uang palsunya sengaja diedarkan.”
“Saya dibayar dari kas mereka.” “Dan mereka sedang audit.” “Merchant mulai pindah digital.” “Merchant di seluruh Indonesia juga bergerak digital.”
Maya membuka data publik.
Pada Juni 2026, Bank Indonesia mencatat 65,77 juta pengguna QRIS dan 44,86 juta merchant, dengan 96,68 persen merchant tersebut merupakan UMKM. Sepanjang Januari sampai Juni 2026, transaksi QRIS mencapai 12,55 miliar transaksi dengan nilai sekitar Rp1,12 kuadriliun.4
PakRPP menunjuk angka itu.
“Nah.” “Nah apa?” “Cash sedang disingkirkan.”
Maya membuka laporan lain.
Pada triwulan II 2026, volume pembayaran digital memang tumbuh cepat. Namun uang kartal yang diedarkan juga tumbuh 14,03 persen secara tahunan menjadi sekitar Rp1.315 triliun.5
PakRPP terdiam dan Maya tersenyum menutup laptop.
“Cash dan digital bisa tumbuh bersamaan.” “Tapi arah kebijakannya digital.” “Digitalisasi memberi manfaat. Lebih cepat. Traceable. Bisa mengurangi friksi. Cross-border payment juga berkembang.”
Bank Indonesia memang mengembangkan QRIS Antarnegara untuk transaksi lintas batas. Pada 2026, konektivitas tersebut telah mencakup sejumlah negara mitra, termasuk Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok dalam konfigurasi layanan yang berbeda. Inisiatif regional ASEAN juga terus mendorong konektivitas pembayaran lintas negara.67
Maya menyandarkan punggung, “Jadi saya kasih versi yang tidak menyenangkan buat teori Bapak.”
PakRPP menunggu.
“Masyarakat tidak perlu dimanipulasi untuk menyukai pembayaran yang lebih mudah. Dan kalau uang palsu bikin orang lebih hati-hati terhadap cash? Itu bisa memengaruhi persepsi risiko. Tapi Bapak tetap belum punya bukti kami membuat risikonya.”
Kalimat itu mengganggu karena masuk akal. PakRPP pulang dengan keadaan paling buruk bagi seorang investigator amatir. Lawan bicaranya benar mengenai sesuatu.
Dua minggu kemudian, audit internal Baron Agro-Livestock menemukan jalurnya. Uang yang diterima PakRPP memang berasal dari kas perusahaan.
Tetapi beberapa lembar yang dinyatakan tidak asli masuk ke kas itu beberapa hari sebelumnya melalui pembayaran pihak ketiga dalam rangkaian transaksi operasional. Tidak ada bukti bahwa Bu Lastri mengetahuinya. Tidak ada bukti bahwa Finance sengaja memilih lembar tersebut. Tidak ada bukti bahwa Baron memerintahkan seseorang memberi PakRPP uang palsu.
Perusahaan mengganti kerugian PakRPP berdasarkan penyelesaian komersial internal, tanpa mengubah status hukum uang yang disita untuk proses terkait.
PakRPP menerima transfer. Digital. Ia menatap notifikasi. Teori konspirasinya meninggal pada pukul 14.23. Tidak ada musik. Hanya bunyi aplikasi bank. Mong sedang makan.
“Jadi kita salah,” gumam PakRPP.
Mong tidak terkejut.
“Baron tidak terbukti mencetak dan menyebarkan uang palsu.”
Mong melanjutkan makan.
“Kalau saya bikin artikel, ini jadi kurang seru.”
Mong berhenti. Menatap. Lalu kembali makan. PakRPP menafsirkan itu sebagai kritik editorial.
Seharusnya cerita berakhir. Tetapi tiga hari kemudian Mang Ujang, mandor ternak, mengirim foto. Dion tertinggal satu map di ruang pelatihan. Bukan dokumen rahasia negara. Bukan daftar transaksi. Hanya printout presentasi. Judulnya: BEHAVIORAL MIGRATION ARCHITECTURE.
PakRPP membaca halaman pertama. Lalu halaman kedua. Di bagian bawah terdapat catatan tangan. Tulisan Dion.
HERDING SESSION NOTESpressuredistancefrictionrouterewardresistancebalance pointHalaman berikutnya:
USER MIGRATIONrisk perceptiontransaction frictionmerchant incentivedefault routerewardsocial proofswitching resistancePakRPP duduk. Tidak ada kalimat “sebarkan uang palsu”. Tidak ada “hapus cash”. Tidak ada tindak pidana yang melompat keluar dari kertas. Yang ada justru sesuatu yang lebih menjengkelkan. Metaforanya telah pindah kantor.
Dion datang malam itu. Tidak dengan pengacara melainkan dengan dua gelas kopi.
“Mas nyontek saya?” PakRPP membuka percakapan.
Dion melihat map, “Belajar.”
“Saya ngajarin anjing.” “Prinsip perilakunya menarik.” “Manusia bukan domba.” “Betul.” “Terus kenapa ada herding session notes?”
Dion duduk, “Karena Bapak menjelaskan satu hal dengan sangat bagus.”
“Apa?” “Orang sering membayangkan pengaruh itu harus berupa perintah.”
PakRPP tidak menjawab dan Dion mengambil dua botol air di meja. Menaruh satu dekat PakRPP. Satu jauh.
“Kalau saya kasih dua pilihan, saya tidak menghapus pilihan.”
Ia mendorong botol dekat sedikit lebih dekat.
“Tapi saya bisa mengubah friksi.” “Choice architecture.” “Ya.” “Manipulasi.” “Kadang. Tidak selalu.”
PakRPP mendengus. Dion mengangkat bahu.
“Kalau pemerintah menaruh buah di tempat yang lebih mudah dilihat supaya orang makan lebih sehat, itu desain pilihan.” “Kalau perusahaan bikin cash repot supaya orang masuk aplikasi investor mereka?” “Itu pertanyaan governance.” “Jawaban aman.” “Karena pertanyaannya memang tidak punya jawaban satu kata.”
Dion menunjuk map.
“Yang kami pelajari bukan cara membuat manusia jadi domba. Yang kami pelajari bagaimana orang merespons tekanan, friksi, insentif, kebiasaan, social proof, dan default.”
PakRPP menatapnya.
“Kalau cash tetap diterima, tapi cashback cuma digital?” “Insentif.” “Kalau settlement vendor digital lebih cepat?” “Operational efficiency.” “Kalau payroll masuk aplikasi?” “Integration.” “Kalau merchant yang pakai aplikasi dapat akses pembiayaan?” “Value proposition.” “Kalau akhirnya semua orang cuma punya satu pintu praktis?”
Dion berhenti. Itu pertama kalinya. PakRPP tersenyum tipis.
“Nah.”
Dion melihat keluar, “Itu sebabnya payment infrastructure perlu kompetisi, interoperabilitas, regulasi, consumer protection, resilience.”
“LajurPay ngomong begitu ke investor?” “Kalau slide governance dibaca investor, iya.”
PakRPP tidak puas. Ia membawa Dion ke peternakan. Pukul lima pagi. Tanpa sneakers kantor. Tanpa layar. Mong sudah menunggu.
“Mas berdiri di sana.”
Dion berdiri. PakRPP memberi sinyal. Mong bergerak lebar. Domba mulai berkumpul.
“Perhatikan.”
Mong tidak menyentuh satu pun. Ia mendekat. Kawanan bergerak menjauh. Ia mengurangi tekanan. Kawanan melambat. Ia bergeser. Arah berubah.
PakRPP berbicara pelan, “Dia tidak menentukan tujuan hidup tiap domba.”
Dion mengangguk.
“Dia juga tidak mengontrol pikiran.”
Mong menahan posisi.
“Dia mengubah medan keputusan.”
Kawanan masuk melalui gerbang. Dion memandang. PakRPP melanjutkan.
“Kalau gerbangnya cuma satu, kerja Mong gampang.” “Kalau banyak?” “Lebih susah.” “Kalau tidak ada pagar?” “Tergantung medan.”
Dion diam.
“Dan kalau dombanya tahu apa yang sedang dilakukan anjing?”
PakRPP menoleh.
“Mas akhirnya nanya hal yang menarik.”
Di sinilah analogi berhenti menjadi lucu. Manusia bukan domba. Pembayaran bukan peternakan. Perusahaan bukan anjing. Dan penggunaan behavioral science tidak otomatis berarti manipulasi.
Pilihan pembayaran dapat berubah karena banyak faktor yang sah: kenyamanan, biaya, keamanan, akses merchant, kecepatan settlement, kebiasaan, interoperabilitas, insentif, inovasi, dan preferensi konsumen.
Masalahnya bukan keberadaan pengaruh. Hampir seluruh desain layanan memengaruhi perilaku. Masalahnya adalah siapa mendesain medan, siapa memperoleh manfaat dari perubahan pilihan, apakah pengguna memahami trade-off, dan apakah alternatif yang nyata tetap tersedia. Karena pilihan yang secara teoritis ada belum tentu mempunyai kekuatan ekonomi yang sama.
Bayangkan dua pintu. Pintu pertama terbuka otomatis, terang, ber-AC, tidak antre, memberi cashback, terhubung dengan payroll, merchant, transportasi, pembiayaan, loyalty points, dan transaksi lintas negara.
Pintu kedua tetap legal. Tetapi engselnya berat. Tidak ada diskon. Antreannya lebih panjang. Beberapa merchant mulai malas menerimanya. Secara formal Anda mempunyai dua pilihan. Secara desain, lantainya miring. Tidak dibutuhkan anjing untuk memahami ke arah mana kaki cenderung bergerak.
Haji Baron kemudian menemui PakRPP di kandang sapi dengan mengenakan sepatu bot, “Puas investigasinya?”
“Tidak.” “Uang sudah diganti.” “Masalah saya bukan uang lagi.” “Itu bahaya orang terlalu banyak baca.”
PakRPP mengeluarkan map Dion. Baron melihat sebentar.
“Tahu.” “Bapak investor LajurPay.” “Tahu juga.” “Bisnis Bapak bisa jadi ekosistem pengguna.” “Memang.” “Kalau transaksi pindah ke LajurPay, valuasi investasi Bapak bisa diuntungkan.” “Bisa.” “Conflict of interest.” “Potensi conflict. Makanya harus disclosure, governance, arm’s length arrangement.”
PakRPP kesal karena mafia fiktifnya membaca governance.
“Kenapa waktu isu uang palsu muncul, promosi digital langsung besar?”
Baron bersandar pada pagar.
“Karena masalah muncul.” “Jadi dimanfaatkan.”
“Kalau hujan, saya jual payung. Apa saya bikin hujan?” “Itu kalimat penjahat.” “Itu kalimat pedagang.” “Bedanya tipis.” “Makanya ada hukum.”
Mereka melihat sapi. Baron melanjutkan.
“Pak, saya tidak perlu bikin semua masalah di dunia.”
Satu ekor sapi menggerakkan ekor.
“Dunia produktif sekali bikin masalah sendiri.”
PakRPP menunggu.
“Bisnis cuma perlu siap menjual solusi.”
Kalimat itu tidak membuktikan tindak pidana. Justru itu yang membuatnya lebih sulit dibuang.
Di perjalanan pulang, PakRPP berhenti di warung.
Tulisan di depan: CASH DITERIMA Di bawahnya: LAJURPAY CASHBACK 40%
Ia memesan kopi.
“Bayar cash berapa?” “Dua belas ribu.” “LajurPay?” “Bayarnya sama. Nanti cashback dari aplikasi.”
PakRPP mengeluarkan uang. Berhenti. Mengambil telepon. Berhenti lagi.
Penjual menatap, “Pak?”
“Sebentar.”
Tidak ada polisi. Tidak ada CEO. Tidak ada Border Collie. Tidak ada orang memaksa. Hanya dua pilihan. Yang satu memberi kembali hampir setengah harga. PakRPP akhirnya membayar tunai. Bukan karena prinsip. Karena baterainya tiga persen. Revolusi epistemik sering kalah oleh charger.
Malamnya, listrik sempat padam di beberapa titik. Sinyal melemah. Warung kembali menerima cash lebih cepat. Keesokan harinya jaringan normal. QR kembali. Kedua sistem hidup berdampingan. Itu juga penting.
Narasi bahwa digital otomatis membunuh cash terlalu sederhana. Data Bank Indonesia pada 2026 menunjukkan pembayaran digital tumbuh sangat cepat, tetapi uang kartal juga masih tumbuh. Infrastruktur yang tangguh sering membutuhkan lebih dari satu jalur, terutama ketika risiko kegagalan, inklusi, akses perangkat, konektivitas, dan preferensi pengguna tidak seragam.5
Maka pertanyaan artikel tidak lagi:
cash baik atau digital buruk?
Itu pertanyaan malas.
Pertanyaannya berubah menjadi:
seberapa besar ketergantungan boleh terkonsentrasi pada satu atau beberapa gerbang, dan apa hak pengguna ketika pintu itu gagal, mahal, berubah aturan, atau menolak mereka?
Mong sedang berlatih di sore hari. PakRPP berdiri di pagar. Satu domba keluar dari formasi. Mong bergerak ke kiri. Domba berbelok kanan. Tidak disentuh. Tidak digigit. Tidak diberi sosialisasi. Jalurnya hanya terasa paling masuk akal.
PakRPP membuka telepon. Notifikasi LajurPay muncul. Aktifkan pembayaran otomatis untuk pengalaman yang lebih mudah. Di bawahnya ada tombol: NANTI dan AKTIFKAN SEKARANG Tombol kedua lebih besar.
PakRPP tersenyum. Bukan karena menemukan konspirasi. Justru karena akhirnya kehilangan konspirasi. Tidak ada bukti Haji Baron menciptakan uang palsu. Tidak ada bukti LajurPay merancang kepanikan. Tidak ada penggembala tunggal yang berdiri di puncak bukit sambil tertawa. Yang ada lebih biasa.
Investor. Insentif. Produk. Krisis. Promosi. Kebiasaan. Friksi. Default. Data. Jaringan. Dan manusia yang setiap hari memilih di dalam medan yang sebagian besar tidak ia desain sendiri.
Mong berhenti bekerja dan menatap PakRPP.
“Jadi uang palsu bukan Border Collie.”
Mong tetap diam.
PakRPP mengangguk kepada kesimpulannya sendiri.
“Uang palsu cuma salah satu tekanan.”
Domba bergerak melewati gerbang. Baru sekarang judulnya terasa mengganggu. Border Collie bukan benda yang menggiring. Ia adalah model mengenai bagaimana arah dapat berubah tanpa sebuah tangan menyentuh tubuh yang bergerak. Dan mungkin pertanyaan yang lebih penting tidak pernah benar-benar mengenai siapa yang melepaskan anjing.
Jika suatu pilihan tetap tersedia tetapi seluruh jalan menuju pilihan lain dibuat lebih murah, lebih cepat, lebih aman, lebih lazim, dan lebih menguntungkan, pada titik apa kita masih membicarakan pilihan individual, dan pada titik apa kita perlu mulai memeriksa siapa yang mendesain medannya, siapa yang memiliki gerbangnya, dan apakah masih ada jalan lain ketika seluruh kawanan sudah masuk?
Mong berbaring. Hari kerja selesai. Sistem pembayaran belum.
Catatan Epistemik
Section titled “Catatan Epistemik”- Baron Agro-Livestock Group, LajurPay, Haji Baron, Dion, Maya, Mong dalam kapasitas naratif, serta seluruh kasus uang palsu dalam cerita adalah fiksi.
- Tidak ada klaim bahwa pembayaran digital, QRIS, bank, penyedia jasa pembayaran, atau investor dunia nyata menyebarkan uang palsu untuk mendorong migrasi pengguna.
- Hubungan antara ketakutan, friksi, default, insentif, dan perubahan perilaku digunakan sebagai kerangka analitis. Efek aktualnya berbeda menurut konteks dan membutuhkan bukti empiris.
- Statistik pembayaran dan uang kartal yang digunakan berasal dari sumber Bank Indonesia yang tercantum di bawah.
- Analogi Border Collie mempunyai batas. Manusia memiliki bahasa, refleksi, norma, kepentingan, hak, dan kemampuan menolak yang tidak dapat direduksi menjadi perilaku kawanan ternak.
Sumber dan Bacaan Dasar
Section titled “Sumber dan Bacaan Dasar”- American Kennel Club, Official Standard of the Border Collie. https://images.akc.org/pdf/judges/groups/Herding_Group.pdf
- American Kennel Club, Herding. https://www.akc.org/sports/herding/
- American Kennel Club, Why Does My Dog Herd My Kids? Tips To Channel Herding Behavior. https://www.akc.org/expert-advice/advice/why-does-my-dog-herd-my-kids/
- Bank Indonesia, Pencegahan dan Pemberantasan Uang Rupiah Palsu. https://www.bi.go.id/id/rupiah/pencegahan-rupiah-palsu/Default.aspx
- Bank Indonesia, Kartu Kredit Indonesia dan Kebijakan MDR 0%: Sinergi dan Inovasi Perkuat Ekonomi Keuangan Digital Indonesia, 17 Agustus 2026. https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2815926.aspx
- Bank Indonesia, Laporan Kebijakan Moneter Triwulan II 2026. https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Pages/Laporan-Kebijakan-Moneter-Triwulan-II-2026.aspx
- Bank Indonesia, QRIS Antarnegara. https://www.bi.go.id/id/fungsi-utama/sistem-pembayaran/ritel/kanal-layanan/QRIS/QRIS-Antarnegara/default.aspx
- ASEAN Finance Ministers and Central Bank Governors, Joint Statement of the 12th AFMGM, 10 April 2025. https://asean.org/wp-content/uploads/2025/04/08_ADOPTED_12th-AFMGM-Joint-Statement_20250410.pdf
Footnotes
Section titled “Footnotes”-
American Kennel Club, Official Standard of the Border Collie. Standar tersebut menjelaskan gaya kerja Border Collie, termasuk eye, stalking, gathering, fetching, dan kemampuan bekerja dengan ternak. ↩
-
American Kennel Club, Herding. Program uji dan kompetisi AKC menilai kemampuan anjing memindahkan dan mengontrol ternak serta bekerja pada titik keseimbangan yang tepat. ↩
-
Bank Indonesia, Pencegahan dan Pemberantasan Uang Rupiah Palsu. BI menjelaskan definisi Rupiah palsu, prosedur ketika menemukan uang yang diragukan keasliannya, serta kewenangan BI dalam menentukan keaslian. ↩
-
Bank Indonesia, siaran pers 17 Agustus 2026. Hingga Juni 2026, QRIS tercatat memiliki 65,77 juta pengguna dan 44,86 juta merchant, dengan 96,68 persen merchant merupakan UMKM. Transaksi semester I 2026 mencapai 12,55 miliar dengan nilai sekitar Rp1,12 kuadriliun. ↩
-
Bank Indonesia, Laporan Kebijakan Moneter Triwulan II 2026. Volume pembayaran digital tumbuh kuat, sementara uang kartal yang diedarkan juga tumbuh 14,03 persen secara tahunan menjadi sekitar Rp1.315 triliun. ↩ ↩2
-
Bank Indonesia, QRIS Antarnegara. Halaman BI menjelaskan konektivitas QR lintas negara, tujuan efisiensi transaksi perdagangan dan pariwisata, serta penggunaan mata uang lokal pada skema terkait. ↩
-
Joint Statement 12th ASEAN Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting, 10 April 2025, mencatat kemajuan konektivitas pembayaran lintas batas dan pengembangan konektivitas pembayaran multilateral di kawasan. ↩